Google search engine
Beranda blog

Sang Pendiri Tarekat Tijaniyah, Jejak Keilmuan dan Warisan Spiritual yang Mendunia

0

SYEKH AHMAD AT-TIJANI

Dalam sejarah perkembangan tasawuf Islam, terdapat sejumlah ulama yang pengaruhnya melampaui batas wilayah dan generasi. Salah satunya adalah Syekh Ahmad at-Tijani, seorang ulama sufi yang kemudian dikenal luas sebagai pendiri Tarekat Tijaniyah.

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani al-Hasani. Beliau lahir pada 1150 H/1737 M di Ain Madi, wilayah Maghrib yang kini berada di Aljazair, dan wafat pada 1230 H/1815 M di Fez, Maroko.

Perjalanan hidupnya tidak hanya menjadi catatan seorang tokoh tasawuf, tetapi juga bagian dari sejarah perkembangan intelektual dan spiritual Islam di Afrika Utara dan Afrika Barat.

Syekh Ahmad at-Tijani tumbuh dalam lingkungan yang kuat dengan tradisi keislaman. Sejak usia muda, beliau telah menunjukkan perhatian besar terhadap ilmu agama.

Beliau mempelajari berbagai disiplin keislaman, antara lain Al-Qur’an, hadis, fikih, ushul fikih, bahasa Arab dan tasawuf. Dalam perjalanan mencari ilmu, beliau berjumpa dengan banyak ulama dan mengambil manfaat dari berbagai majelis keilmuan.

Tradisi keilmuan pada masa itu menjadikan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain sebagai bagian penting dalam proses pendidikan seorang ulama. Dari perjalanan tersebut, seseorang bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman, sanad keilmuan dan wawasan tentang kehidupan umat.

Hal tersebut turut membentuk karakter intelektual Syekh Ahmad at-Tijani.

Dari Perjalanan Spiritual Menuju Tijaniyah

Nama Syekh Ahmad at-Tijani kemudian semakin dikenal ketika beliau menempuh perjalanan spiritual yang akhirnya melahirkan tradisi tarekat yang disebut Tijaniyah.

Dalam literatur internal Tijaniyah terdapat sejumlah riwayat mengenai pengalaman spiritual Syekh Ahmad at-Tijani, termasuk hubungan ruhani dengan Rasulullah SAW. Riwayat tersebut menjadi bagian penting dari pemahaman pengikut Tijaniyah mengenai sejarah tarekat.

Namun, secara akademik, kisah-kisah spiritual tersebut perlu ditempatkan sebagai riwayat dalam tradisi Tijaniyah, berbeda dengan fakta sejarah yang dapat diverifikasi melalui sumber-sumber sejarah.

Pembedaan ini penting agar pembahasan mengenai Syekh Ahmad at-Tijani tetap objektif sekaligus menghormati keyakinan para pengikutnya.

Zikir dan Pembinaan Akhlak

Tarekat Tijaniyah menempatkan zikir dan pembinaan spiritual sebagai bagian penting perjalanan seorang muslim.

Di antara amalan yang dikenal dalam tradisi Tijaniyah adalah Wirid Lazimah, Wadzifah dan Hailalah. Amalan tersebut menjadi bagian dari disiplin spiritual jamaah Tijaniyah.

Pada hakikatnya, tradisi tasawuf menekankan bahwa zikir bukan semata-mata aktivitas lisan. Zikir diarahkan untuk menghadirkan kesadaran kepada Allah SWT, memperbaiki akhlak dan membentuk pribadi yang lebih dekat kepada nilai-nilai keislaman.

Karena itu, warisan Syekh Ahmad at-Tijani tidak hanya dapat dilihat dari jumlah pengikut tarekat, tetapi juga dari bagaimana tradisi tersebut membentuk kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Fez dan Pusat Perkembangan Tijaniyah

Dalam perjalanan sejarahnya, Fez, Maroko, menjadi salah satu pusat penting perkembangan Tijaniyah.

Syekh Ahmad at-Tijani wafat dan dimakamkan di Fez. Dari kota inilah jaringan keilmuan dan spiritual Tijaniyah kemudian berkembang semakin luas.

Dalam perkembangannya, Tijaniyah memiliki pengaruh besar di kawasan Afrika Barat, terutama Senegal, Mauritania, Mali, Nigeria dan sejumlah wilayah lainnya.

Tarekat ini kemudian menjadi salah satu jaringan tasawuf yang penting dalam sejarah Islam di Afrika.

Warisan yang Melampaui Batas Negara

Salah satu hal menarik dari sejarah Syekh Ahmad at-Tijani adalah bagaimana ajaran yang berkembang dari Afrika Utara tersebut akhirnya memiliki jaringan yang sangat luas.

Tijaniyah tidak berhenti di Maroko dan Afrika Barat. Tradisi ini kemudian dikenal pula di berbagai kawasan dunia Islam, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, kajian mengenai Tijaniyah menjadi bagian dari dinamika perkembangan tasawuf dan tarekat. Sejumlah komunitas dan pesantren memiliki hubungan dengan tradisi Tijaniyah serta meneruskan amalan dan pengajaran yang bersumber dari sanad tarekat tersebut.

Tasawuf dan Tantangan Zaman

Di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks, kajian terhadap tokoh seperti Syekh Ahmad at-Tijani tetap menarik.

Tasawuf berbicara mengenai dimensi batin manusia: bagaimana ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melahirkan kesadaran, ketakwaan dan akhlak.

Pesan semacam itu menjadi relevan ketika kehidupan manusia modern menghadapi persoalan materialisme, persaingan, kegelisahan dan krisis keteladanan.

Karena itu, mempelajari sejarah Syekh Ahmad at-Tijani tidak semata-mata berarti mempelajari seorang pendiri tarekat. Lebih jauh, ia membuka ruang untuk memahami sejarah intelektual Islam, perkembangan tasawuf dan bagaimana tradisi keagamaan membangun kehidupan masyarakat.

Syekh Ahmad at-Tijani merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah tasawuf Islam. Dari Ain Madi hingga Fez, perjalanan kehidupannya menjadi bagian dari sejarah panjang pencarian ilmu dan spiritualitas dalam Islam.

Tarekat Tijaniyah yang lahir dari perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi jaringan keagamaan internasional dengan pengaruh yang sangat besar, khususnya di Afrika.

Bagi para pengikutnya, Syekh Ahmad at-Tijani bukan sekadar seorang ulama sejarah, melainkan mursyid yang menjadi mata rantai penting dalam perjalanan spiritual mereka.

Sementara bagi dunia akademik dan sejarah Islam, perjalanan hidupnya menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana ilmu, tasawuf, sanad dan jaringan ulama dapat membentuk tradisi keagamaan yang bertahan lintas generasi dan lintas benua. (Red/Berbagai Sumber)

HIMASAL Brebes dalam Tarikan Napas Khidmat Masyayekh Lirboyo

0

Ada sebuah tradisi yang mungkin tidak selalu tertulis dalam buku, tetapi hidup kuat dalam diri para santri: khidmat kepada guru. Di pesantren, ilmu tidak hanya diwariskan melalui kitab dan pengajian. Ia juga tumbuh melalui keteladanan, adab, tawadhu, kesederhanaan, dan penghormatan kepada para masyayekh. Karena itu, hubungan antara santri dan guru tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan pesantren.

Justru di tengah masyarakat, nilai-nilai itu diuji dan menemukan bentuk pengabdiannya.Dalam tradisi itulah keberadaan alumni pesantren menemukan maknanya. Alumni bukan sekadar mereka yang pernah mondok, melainkan bagian dari mata rantai perjuangan yang membawa nilai-nilai pesantren ke tengah kehidupan masyarakat.

Bagi keluarga besar HIMASAL Brebes, napas tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi. Terlebih bagi para alumni yang pernah menimba ilmu di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo.

Jejak para masyayekh tidak semestinya berhenti ketika santri pulang dari pesantren. Ia harus tetap hidup dalam sikap, pemikiran, pengabdian, dan perilaku sosial para alumninya.

Khidmat kepada masyayekh bukan sekadar menghadiri majelis, sowan, atau mengenang masa-masa menjadi santri. Lebih dari itu, khidmat adalah upaya menjaga amanah keilmuan sekaligus meneruskan nilai-nilai yang telah ditanamkan para guru. Santri diajarkan bahwa ilmu harus melahirkan manfaat. Karena itu, semakin jauh seseorang berjalan setelah meninggalkan pesantren, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghadirkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan. Di sinilah HIMASAL Brebes memiliki ruang pengabdian yang luas.

Organisasi alumni tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul dan bersilaturahmi. HIMASAL harus mampu menjadi wadah penguatan tradisi keilmuan, kaderisasi, pemberdayaan alumni, sekaligus pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, khidmat tidak berhenti pada hubungan emosional dengan pesantren, tetapi menjelma menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi umat.

Menjaga Tradisi, Membaca Zaman

Tantangan generasi muda hari ini tentu berbeda dengan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi, media sosial, budaya populer, dan derasnya arus informasi menghadirkan tantangan baru dalam membangun karakter generasi. Dalam situasi seperti itu, tradisi pesantren justru memiliki relevansi yang semakin kuat. Adab kepada guru, tawadhu, kesederhanaan, kedisiplinan, kecintaan terhadap ilmu, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan nilai-nilai yang tidak pernah kehilangan tempat, bahkan ketika zaman terus berubah.

HIMASAL Brebes berada pada posisi strategis untuk menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.Alumni tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjadi modern. Sebaliknya, nilai-nilai pesantren dapat menjadi pijakan untuk membaca perubahan zaman secara lebih bijaksana.

Tradisi bukan berarti terjebak pada masa lalu. Tradisi adalah kekuatan moral untuk menghadapi masa depan. Karena itu, alumni Lirboyo di Brebes harus mampu membawa nilai pesantren ke ruang-ruang baru: pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, teknologi, pemerintahan, politik, maupun pemberdayaan masyarakat.

Dari Lirboyo untuk Brebes

Semangat khidmat kepada masyayekh selayaknya menemukan bentuk nyata di daerah masing-masing. Brebes membutuhkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan wawasan, kepedulian sosial, sekaligus keteguhan karakter.

Para alumni pesantren memiliki modal besar untuk mengambil peran tersebut. Melalui HIMASAL, berbagai potensi alumni dapat dipertemukan dan disatukan dalam sebuah gerakan yang lebih terarah. Ada alumni yang bergerak di bidang pendidikan. Ada yang berdakwah. Ada yang aktif dalam kegiatan sosial. Ada yang menekuni dunia usaha, pemerintahan, politik, maupun pemberdayaan masyarakat. Semua bidang tersebut dapat menjadi ruang khidmat apabila dijalankan dengan nilai-nilai pesantren. Dengan demikian, nama besar pesantren tidak hanya disebut dalam forum-forum silaturahmi, tetapi benar-benar tercermin dalam kontribusi nyata para alumninya. Sebab, perilaku alumni pada hakikatnya ikut membawa nama pesantren di tengah masyarakat.

Masyayekh sebagai Sumber Keteladanan

Menghidupkan kembali semangat masyayekh bukan berarti menjadikan masa lalu sebagai romantisme. Yang jauh lebih penting adalah mengambil uswah dari perjuangan mereka. Kesederhanaan, ketekunan mengajar, istiqamah dalam ibadah, perhatian kepada santri, serta pengabdian kepada umat merupakan warisan moral yang harus terus dijaga. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dikenang. Ia harus menjadi komitmen yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

HIMASAL Brebes dapat menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi gerakan. Setiap kegiatan organisasi hendaknya memiliki orientasi manfaat. Setiap pertemuan menjadi ruang mempererat ukhuwah. Setiap gagasan diarahkan untuk kemaslahatan. Dan setiap alumni didorong untuk menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.Dengan cara itulah khidmat kepada masyayekh memperoleh makna yang lebih luas.

Khidmat yang Melampaui Generasi

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang alumni bukan semata-mata jabatan, kedudukan, atau pencapaian duniawi setelah keluar dari pesantren. Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Dari pesantren, seorang santri belajar membaca kitab. Namun setelah kembali ke masyarakat, ia dituntut mampu “membaca” kehidupan: membaca kebutuhan umat, membaca perubahan zaman, membaca persoalan sosial, sekaligus membaca dirinya sendiri agar tetap rendah hati.

Ilmu yang diperoleh di pesantren harus mampu menjadi cahaya bagi masyarakat. Karena itu, kehadiran alumni di tengah-tengah masyarakat idealnya bukan sekadar sebagai orang yang pernah belajar di pesantren, tetapi sebagai pribadi yang mampu memberikan pencerahan dalam kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Di situlah makna khidmat menemukan bentuknya.

HIMASAL Brebes dalam tarikan napas khidmat masyayekh Lirboyo bukan sekadar organisasi alumni. Ia merupakan bagian dari ikhtiar menjaga mata rantai sanad keilmuan, merawat ukhuwah, dan meneruskan nilai-nilai pesantren agar tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab, santri boleh meninggalkan pesantren, tetapi pesantren tidak boleh meninggalkan jiwa santrinya.Inilah yang lazim disebut dalam jargon: “Dadi santri salawase.”(Menjadi santri selamanya.) Dan selama nilai-nilai masyayekh tetap menjadi napas perjuangan, selama itu pula tradisi pesantren akan terus hidup—mengalir dari generasi ke generasi, dari Lirboyo untuk Brebes, dari pesantren untuk umat.(*)

Mengenal Prof. Dr. Suwendi, Sang Pejuang Pendidikan Keagamaan di Nusantara

0

Sosok pakar pendidikan keagamaan Islam yang tidak pernah lelah memperjuangkan eksistensi pendidikan Islam, khususnya Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), salah satunya adalah Prof. Dr. Suwendi.

Bagi saya, Prof. Dr. Suwendi bukan sekadar seorang akademisi. Ia adalah sosok yang mampu mempertemukan dunia pesantren, tradisi keilmuan Islam, dan kebijakan pendidikan negara dalam satu tarikan napas.

Perjuangannya tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi hadir dalam berbagai ikhtiar untuk memastikan pendidikan keagamaan tetap mendapatkan tempat yang layak dalam perjalanan bangsa. Sebagai seorang pejuang pendidikan, kapasitas akademiknya tentu tidak perlu diragukan.

Berbagai karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun artikel, menjadi bukti bahwa gagasan yang disampaikannya memiliki landasan akademik yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Pertemuan saya dengan beliau terjadi dalam Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT). Saat itu, beliau menjadi salah satu pembina yang secara aktif memberikan kontribusi pemikiran bagi masa depan Madrasah Diniyah Takmiliyah di Indonesia. Dari berbagai diskusi yang saya ikuti, tampak jelas bahwa beliau tidak melihat MDT sekadar sebagai lembaga pendidikan pelengkap.

MDT ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem pendidikan keagamaan yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter, akhlak, dan pemahaman keagamaan generasi bangsa.Melalui pemikiran dan gagasannya, MDT terus didorong untuk mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul seiring dengan perkembangan kebijakan pemerintah.

Sebagai alumni pesantren, Prof. Dr. Suwendi sangat fasih berbicara tentang pesantren dan Madrasah Diniyah. Dua institusi pendidikan tersebut seolah menjadi bagian dari dunianya. Ia mampu menjelaskan berbagai persoalan pesantren dan MDT dari A sampai Z.Bahkan, bagi saya, beliau ibarat “kamus berjalan” tentang pesantren dan pendidikan diniyah. Seluk-beluk kehidupan pesantren, tradisi keilmuan, pendidikan keagamaan, hingga relasinya dengan kebijakan negara dapat dijelaskan secara akademik sekaligus kontekstual.

Pesantren sebagai Basis Pemikiran

Yang menarik, meskipun memiliki kapasitas akademik yang kuat, Prof. Dr. Suwendi tidak pernah meninggalkan basis pemikiran ulama pesantren.Dunia pesantren yang menempa dirinya justru menjadi fondasi dalam membangun gagasan pendidikan.

Ia mampu menggabungkan tradisi keilmuan pesantren dengan pendekatan akademik dalam satu visi kebangsaan: membangun Indonesia yang berpendidikan, berkarakter, religius, dan bermartabat. Pandangan itulah yang antara lain mewarnai kontribusinya dalam memperjuangkan lahirnya peringatan Hari Santri Nasional.

Jauh sebelum lahirnya Undang-Undang tentang Pesantren, saya pernah mengikuti paparan beliau di hadapan DPR RI mengenai cluster pendidikan keagamaan. Paparan tersebut disampaikan secara sistematis dan detail.

Berbagai jenis pendidikan di bawah Kementerian Agama RI dipetakan dengan jelas, termasuk persoalan kebijakan dan dukungan anggarannya. Bagi saya, pemikiran semacam itu menjadi salah satu bagian penting dari proses panjang menuju lahirnya regulasi yang lebih berpihak kepada pesantren dan pendidikan keagamaan.

Advokasi yang Tidak Kenal Lelah

Perjuangan Prof. Dr. Suwendi untuk pendidikan keagamaan tidak berhenti di ruang seminar atau forum akademik.Saya merasakan sendiri bagaimana berbagai gagasan itu muncul dalam perjalanan dan percakapan informal.

Ketika suatu kali perjalanan bersama beliau dari Cirebon menuju Brebes, banyak cerita yang disampaikan tentang ikhtiar dan advokasi pendidikan keagamaan di hadapan para pejabat negara dan pengambil kebijakan.

Di situlah terlihat bahwa kapasitas akademiknya tidak hanya digunakan untuk menulis buku atau artikel ilmiah. Pengetahuan tersebut menjadi modal penting ketika berhadapan dengan birokrasi dan para pengambil keputusan.

Ia berbicara dengan data, tetapi tidak kehilangan akar tradisi. Ia membawa argumentasi akademik, tetapi tetap memahami realitas pendidikan keagamaan di lapangan.

Ketika pesantren diterpa berbagai persoalan, termasuk kasus bullying dan kekerasan seksual, Prof. Dr. Suwendi juga hadir memberikan perspektif yang berimbang.

Ia berusaha menjelaskan persoalan tersebut melalui pendekatan literasi dan khazanah turats. Dari sana, ia membantu memetakan secara lebih jernih batas antara ta’dzim, pendidikan, disiplin, dan tindakan yang dapat masuk ke wilayah asusila maupun pelanggaran hukum pidana.

Penjelasan tersebut tidak hanya disampaikan dalam ruang halaqah, diskusi, atau seminar. Beberapa tulisannya juga hadir di media daring sehingga dapat dibaca masyarakat luas. Narasinya relatif mudah dipahami, meskipun persoalan yang dibahas tidak sederhana. Di sinilah terlihat karakter seorang akademisi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami fakta dan realitas lapangan.

Membaca Pemikiran Ulama Pesantren

Sebagai alumni pesantren, Prof. Dr. Suwendi juga memiliki kemampuan membaca dan mengembangkan khazanah pemikiran pesantren dalam konteks pendidikan modern. Salah satu buktinya adalah karya yang mengeksplorasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dalam bidang pendidikan.

Bagi saya, karya semacam itu penting. Sebab, membicarakan pendidikan pesantren tidak cukup hanya dengan menggunakan teori pendidikan modern. Ada khazanah keilmuan pesantren yang harus dibaca, dipahami, dan ditempatkan secara proporsional dalam konteks kekinian.

Gagasan Progresif untuk MDT

Gagasan progresif tentang pendidikan selalu muncul ketika beliau mendapatkan amanah di bidang pendidikan. Saat berada di Subdit MDT, misalnya, beliau pernah merancang gagasan ekspansi MDT ke lembaga pendidikan formal melalui pola pendidikan yang terintegrasi. Termasuk pula gagasan pengembangan pendidikan diniyah di lingkungan lembaga pemasyarakatan.

Meskipun sebagian gagasan tersebut pada saat itu masih dalam tahap rancangan, pemikiran itu telah menjadi inspirasi bagi para pengelola MDT di daerah untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dinas pendidikan setempat. Ini menunjukkan satu hal penting: MDT tidak boleh berjalan sendiri. MDT membutuhkan sinergi lintas lembaga dan dukungan kebijakan agar mampu berkembang tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan.

Ketika Full Day School Mengancam Ruang MDT

Ketika kebijakan Full Day School (FDS) digulirkan pemerintah, Prof. Dr. Suwendi tidak mengambil posisi yang semata-mata konfrontatif.Dengan pendekatan yang moderat, ia berusaha mencari jalan tengah agar kebijakan pendidikan nasional tetap berjalan, tetapi keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah tidak menjadi korban.

Kritiknya terhadap kebijakan tersebut disertai argumentasi, data tentang keberadaan MDT, serta penjelasan mengenai peran strategis MDT dalam membangun masa depan anak bangsa. Bagaimanapun, keberadaan MDT sangat dibutuhkan dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan keagamaan sekaligus akhlak. MDT juga memiliki posisi penting sebagai salah satu lembaga transmisi ilmu agama Islam yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui berbagai tulisannya, beliau menawarkan solusi agar MDT tetap bertahan dan berkembang, salah satunya melalui penguatan sinergitas lintas kementerian dan lembaga.

Akademisi yang Tetap Berpijak pada Pesantren

Dari berbagai pengalaman berinteraksi dengan Prof. Dr. Suwendi, saya melihat ada satu benang merah yang kuat: ia tidak pernah mempertentangkan pesantren dengan akademik, dan tidak pula mempertentangkan tradisi dengan perubahan. Justru keduanya dipertemukan. Pesantren menjadi basis nilai dan tradisi keilmuan. Akademik menjadi instrumen untuk membaca perubahan.

Sementara kebijakan negara menjadi ruang perjuangan agar pendidikan keagamaan memperoleh posisi yang lebih kuat dan proporsional. Karena itu, pengukuhan Prof. Dr. Suwendi sebagai guru besar di UIN Jakarta bukan hanya layak dipandang sebagai pencapaian pribadi.

Lebih dari itu, momentum tersebut patut menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan keagamaan, khususnya pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah.

Semoga gelar dan amanah akademik tersebut semakin memperkuat langkah beliau dalam memperjuangkan pendidikan keagamaan di Nusantara.

Selamat dan sukses atas pengukuhan Prof. Dr. Suwendi sebagai Guru Besar UIN Jakarta. Semoga terus lahir gagasan-gagasan besar untuk pesantren, Madrasah Diniyah Takmiliyah, dan pendidikan keagamaan Indonesia. Pendidikan keagamaan bukan sekadar pelengkap sistem pendidikan nasional. Ia adalah bagian penting dari ikhtiar membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat. (*)

Kriswanto, Kades Cikampek Timur, Siap Lanjutkan Pengabdian Dua Periode

0

KARAWANG (Aswajanews.id) — Kepala Desa Cikampek Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Kriswanto, A.Md., disebut siap kembali maju untuk melanjutkan pengabdiannya pada periode berikutnya.

Keinginan tersebut mendapat perhatian dari masyarakat Desa Cikampek Timur. Sejumlah warga menilai berbagai program pembangunan, pelayanan publik, serta pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan selama kepemimpinannya masih perlu dilanjutkan dan ditingkatkan.

Kriswanto dikenal aktif menjalankan roda pemerintahan desa dan mendorong pembangunan di berbagai sektor. Dukungan masyarakat menjadi salah satu dorongan bagi dirinya untuk kembali mengabdikan diri bagi kemajuan Desa Cikampek Timur.

Jika kembali mendapat kepercayaan masyarakat, Kriswanto diharapkan mampu melanjutkan program yang telah berjalan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat.

Keberlanjutan pembangunan menjadi salah satu alasan munculnya dukungan agar kepemimpinan Kriswanto dapat dilanjutkan. Masyarakat berharap program yang sudah dirintis tidak berhenti di tengah jalan, tetapi terus dikembangkan untuk kepentingan warga.

“Dua periode, lanjutkan pengabdian untuk masyarakat Desa Cikampek Timur,” menjadi semangat yang digaungkan para pendukungnya.

(Ahmad Z)

Santri Baru 2026 Merosot, Pesantren Mulai Kehilangan Daya Tarik?

0

PEMALANG (Aswajanews.id) —Dunia pesantren tengah menghadapi pertanyaan serius. Memasuki tahun ajaran 2026/2027, sejumlah pesantren dilaporkan mengalami penurunan jumlah pendaftar santri baru.

Jika fenomena tersebut terjadi secara luas, kondisi ini patut menjadi alarm bagi pengelola pesantren, pemerintah, dan masyarakat. Bukan semata karena berkurangnya jumlah santri, tetapi karena muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah minat masyarakat untuk memondokkan anak mulai bergeser?

Hal tersebut disampaikan Romo KH Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Salafi Darul Muta’alimin Keboijo, Petarukan, Kabupaten Pemalang, dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa 26 Rabi’ul Awwal 1448 Hijriah.

Menurutnya, penurunan jumlah pendaftar santri baru pada 2026 tidak hanya terjadi di pondok pesantren yang diasuhnya, tetapi juga dirasakan oleh sejumlah pesantren lainnya di berbagai daerah.

“Fenomena menurunnya jumlah pendaftar santri baru tahun 2026 ini bukan hanya terjadi di pondok pesantren kami, tetapi hampir terjadi di berbagai daerah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tentu perlu diuji dengan data yang lebih luas. Sebab, penurunan jumlah santri baru di satu atau beberapa pesantren belum serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa masyarakat mulai meninggalkan pesantren. Namun demikian, fenomena tersebut layak menjadi bahan evaluasi serius.

Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi salah satu kekuatan besar dalam sistem pendidikan nasional. Pada 2025, tercatat sekitar 42.369 pesantren dengan 6,26 juta santri dan sekitar 1,16 juta ustaz.
Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa pesantren tetap memiliki basis masyarakat yang kuat. Akan tetapi, jumlah lembaga dan santri secara nasional tidak otomatis menjamin seluruh pesantren mampu mempertahankan daya tariknya.

Dunia pendidikan terus berubah. Pilihan masyarakat pun semakin beragam.
Orang tua kini tidak hanya mempertimbangkan pesantren sebagai pilihan pendidikan anak. Mereka juga memiliki alternatif berupa madrasah unggulan, sekolah Islam terpadu, sekolah umum dengan program keagamaan, lembaga tahfiz, hingga berbagai model pendidikan alternatif yang menawarkan kombinasi pendidikan agama, akademik, karakter, dan keterampilan.

Bukan Sekadar Soal Biaya

Menurunnya jumlah pendaftar tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai persoalan mahalnya biaya pendidikan. Ada banyak faktor yang perlu dibongkar secara lebih serius. Mulai dari biaya dan transparansi pembiayaan, kualitas pendidikan, pola pengasuhan, keamanan dan perlindungan santri, fasilitas, kompetensi tenaga pendidik, prestasi lembaga, pemanfaatan teknologi, hingga prospek lulusan.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: sejauh mana pesantren mampu membaca perubahan karakter generasi muda dan ekspektasi orang tua saat ini? Sebab, orang tua hari ini tidak hanya mencari tempat untuk mendidik anak secara agama. Mereka juga memikirkan masa depan anak, kemampuan akademik, keterampilan, lingkungan pergaulan, keamanan, kesehatan mental, serta peluang melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja.

Pesantren dituntut tidak hanya mampu menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman.
Di sinilah tantangan besar pesantren berada.
Bagaimana mempertahankan ruh pendidikan pesantren tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman?

Alarm atau Hanya Fenomena Sementara

Pertanyaan mengenai merosotnya jumlah santri baru pada 2026 harus dijawab dengan data.
Diperlukan perbandingan jumlah pendaftar dan santri baru setidaknya pada 2024, 2025, dan 2026. Data tersebut penting untuk melihat apakah penurunan hanya terjadi pada tahun tertentu, terjadi di wilayah tertentu, atau justru menunjukkan sebuah tren nasional.

Tanpa data pembanding, kesimpulan bahwa pesantren sedang kehilangan daya tarik masih terlalu dini. Karena itu, persoalan ini perlu ditelusuri secara terbuka dan berimbang.
Benarkah minat masyarakat terhadap pesantren sedang menurun? Seberapa besar penurunannya? Pesantren mana yang mengalami penurunan paling signifikan? Dan yang paling penting, apa alasan orang tua mengubah pilihan pendidikan anaknya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu tidak cukup hanya diperoleh dari pengelola pesantren.
Suara wali santri, calon santri, pengasuh pesantren, tenaga pendidik, pengamat pendidikan, serta Kementerian Agama perlu didengar secara proporsional.

Jika benar terjadi penurunan, pesantren tidak perlu melihatnya semata sebagai ancaman. Fenomena tersebut justru dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan pembenahan.

Bangku-bangku pesantren yang mulai kosong mungkin bukan sekadar persoalan kuota penerimaan santri. Bisa jadi, itu adalah sinyal dari masyarakat agar pesantren berbenah, beradaptasi, dan kembali memastikan bahwa pendidikan pesantren mampu menjawab kebutuhan generasi masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.

Aswajanews.id akan menelusuri lebih jauh fenomena ini. Apakah benar pesantren mulai kehilangan daya tarik, atau justru terjadi perubahan pola pilihan pendidikan masyarakat yang belum sepenuhnya dibaca oleh dunia pesantren?
Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang tidak hanya berdasarkan persepsi, tetapi data, fakta, dan suara masyarakat. (Red)

Kajati Jabar Tegaskan Integritas dan Kesederhanaan, Jajaran Diingatkan Hindari Flexing di Medsos

0

BANDUNG (Aswajanews.id) — Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat M. Teguh Darmawan menekankan pentingnya integritas, tanggung jawab, kesederhanaan, serta kekompakan seluruh jajaran Kejaksaan dalam menjalankan tugas dan menjaga kehormatan institusi. Pesan tersebut disampaikan Kajati Jabar saat melakukan rangkaian kunjungan kerja ke Kejaksaan Negeri Kuningan, Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon, dan Kejaksaan Negeri Kota Cirebon, Kamis (10/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kajati Jabar didampingi Wakajati Jabar Dr. Desy Meutia Firdaus, Asisten Intelijen Donny Haryono Setyawan, S.H., M.H., Asisten Tindak Pidana Umum Agus Setiadi, S.H., M.H., Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara Sulvia Triana Hapsari, S.H., M.Hum., Asisten Pidana Militer Erwin Desamarasolhan, S.H., serta Kabag Tata Usaha Dr. Malemna Sura Anabertha BR Sembiring, S.H., M.H.Kajati meninjau kondisi kantor, sarana dan prasarana, termasuk ruang barang bukti.

Ia juga melihat secara langsung pengelolaan serta manajemen perawatan barang bukti di masing-masing satuan kerja.Selain melakukan peninjauan, Kajati bertatap muka dengan para pegawai di aula masing-masing kejaksaan negeri.

Dalam arahannya, ia meminta seluruh jajaran melaksanakan setiap tugas dan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kajati juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan, saling mendukung, dan membangun kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing bidang.

“Seluruh jajaran harus terus menjaga integritas dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” demikian pokok arahan Kajati dalam kunjungan tersebut.

Tak hanya soal pelaksanaan tugas, Kajati mengingatkan seluruh pegawai untuk menerapkan pola hidup sederhana dan menghindari perilaku flexing, terutama memamerkan kemewahan melalui media sosial.

Menurutnya, media sosial harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan etika, kehormatan pribadi, serta nama baik institusi Kejaksaan.

Dalam kesempatan yang sama, Kajati juga menekankan pentingnya pengamanan terhadap personel internal. Seluruh jajaran diminta meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan terhadap berbagai hal yang berpotensi mengganggu keamanan maupun pelaksanaan tugas.

Para pegawai juga diminta melaksanakan setiap perintah dan arahan pimpinan, termasuk 7 Perintah Harian Jaksa Agung RI, secara konsisten dan penuh tanggung jawab.Melalui rangkaian kunjungan kerja tersebut, Kajati berharap seluruh jajaran terus meningkatkan kinerja, menjaga integritas dan kehormatan institusi, serta menjalankan setiap tugas dengan penuh dedikasi. Hal itu diharapkan dapat mendukung terwujudnya institusi Kejaksaan yang profesional, berintegritas, dan semakin dipercaya masyarakat.(Red/Kasi Penkum Kejati Jabar)

MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa: Nafas Religius dalam Peradaban

0

Di tengah denyut kehidupan masyarakat Rengaspendawa, pendidikan tidak pernah berdiri sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sosial dan keagamaan. Desa bukan sekadar ruang tempat masyarakat tinggal, bekerja, dan membangun keluarga, tetapi juga ruang tempat nilai, tradisi, serta harapan tentang masa depan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat itulah MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa hadir dan mengambil bagian dalam perjalanan panjang mencerdaskan generasi.

Rengaspendawa memiliki wajah yang khas. Kehidupan masyarakat tumbuh dari perjumpaan antara tradisi, agama, keluarga, pendidikan, dan perubahan zaman, dengan beragam profesi yang menjadi bagian dari kehidupan warganya.

Nilai-nilai keagamaan tidak semata hidup di ruang ibadah, tetapi juga hadir dalam cara masyarakat mendidik anak, menghormati orang tua dan guru, membangun kebersamaan, serta menjaga hubungan sosial. Dalam konteks seperti inilah madrasah memiliki arti yang lebih dalam daripada sekadar lembaga pendidikan formal.

MI Sirojut Tholibin merupakan bagian dari ekosistem sosial Rengaspendawa. Ia tumbuh dari masyarakat dan pada saat yang sama ikut membentuk masyarakat. Anak-anak yang belajar di dalamnya bukan hanya sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tetapi juga sedang diperkenalkan pada cara menjadi manusia yang memiliki ilmu, iman, dan adab.

Karena itu, membicarakan MI Sirojut Tholibin berarti membicarakan lebih dari sekadar sekolah. Kita sedang membicarakan masa depan Rengaspendawa. Sebab, pendidikan merupakan wahana penting untuk mempersiapkan sekaligus mewujudkan masa depan generasi.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pertanyaan tentang masa depan pendidikan menjadi semakin penting. Ketika teknologi digital telah masuk hingga ke ruang-ruang keluarga, ketika kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia belajar dan bekerja, dan ketika anak-anak tumbuh dalam arus informasi yang nyaris tanpa batas, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan anak yang pintar dan cerdas secara intelektual.

Yang dibutuhkan adalah manusia yang cerdas sekaligus berkarakter, berakhlak, terbuka terhadap perubahan tetapi tidak kehilangan akar, mampu menguasai teknologi tetapi tetap memiliki kendali moral.

Hal ini menjadi sangat penting. Tanpa penguatan karakter dan akhlak, pendidikan berisiko kehilangan makna yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional.

Di sinilah relevansi gagasan “nafas religius dalam peradaban.”

Nafas religius bukan berarti menjadikan agama sekadar pelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Nafas religius berarti menjadikan nilai-nilai agama sebagai energi yang menghidupkan seluruh proses pendidikan: bagaimana ilmu dipelajari, bagaimana guru mendidik, bagaimana anak memperlakukan sesamanya, bagaimana teknologi digunakan, dan bagaimana kecerdasan diarahkan untuk kemaslahatan.

Dengan perspektif tersebut, MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa memiliki posisi yang strategis. Madrasah dapat menjadi titik temu antara akar tradisi Rengaspendawa dan tuntutan peradaban masa depan. Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi justru dapat dipadukan menjadi satu kekuatan untuk membangun peradaban.

Sebab, peradaban yang kokoh tidak lahir dari manusia yang hanya menguasai pengetahuan. Peradaban lahir dari manusia yang mampu menjadikan pengetahuan sebagai jalan pengabdian, kemajuan sebagai sarana kemaslahatan, dan agama sebagai kompas dalam menentukan arah.

Dari Rengaspendawa, ikhtiar kecil di ruang-ruang kelas itu sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih besar. Di sanalah generasi dipersiapkan untuk menghadapi perubahan zaman dengan bekal ilmu, iman, karakter, dan adab.

MI Sirojut Tholibin tidak hanya sedang mendidik anak-anak untuk menghadapi masa depan. Lebih dari itu, madrasah sedang menyiapkan generasi yang kelak mampu memberi arah bagi masa depan.

Dari Rengaspendawa, nafas religius itu terus mengalir—menjadi energi pendidikan, membentuk karakter, dan pada akhirnya menjadi bagian dari ikhtiar membangun peradaban.

(*)

TAKLUKKAN LAUT SEBELUM LAUT MENAKLUKKAN KITA

0

Prasa—atau lebih tepatnya ungkapan—“Taklukkan laut sebelum laut menaklukkan kita” pernah dimuat Harian Kompas pada 17 Februari 2008. Ungkapan itu berkaitan dengan nasib para nelayan yang menghadapi cuaca ekstrem dan angin barat sepanjang musim.

Bagi nelayan, kondisi seperti itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Ketika tidak bisa melaut, paling tidak waktu senggang mereka digunakan untuk memperbaiki jaring, memperbaiki perahu, atau melakukan pekerjaan lain yang berkaitan dengan aktivitas melaut. Namun, persoalannya kini semakin kompleks.

Cuaca panas berlangsung lebih lama dan kondisi cuaca semakin fluktuatif sehingga nelayan kesulitan memprediksi waktu yang tepat untuk melaut. Dalam kondisi normal, Februari biasanya sudah memasuki fase berakhirnya musim angin barat. Tetapi perubahan cuaca membuat pola tersebut tidak lagi mudah ditebak.

Kesulitan nelayan juga diperparah oleh persoalan harga bahan bakar minyak (BBM). Padahal, BBM merupakan salah satu komponen terbesar dalam biaya operasional nelayan. Sekitar 40–50 persen biaya operasional dapat terserap untuk kebutuhan bahan bakar.

Sebelum menghadapi musim angin barat pun, para nelayan sebenarnya sudah “ngeri-ngeri sedap” akibat kenaikan harga BBM sebelumnya.
Presiden Joko Widodo tercatat beberapa kali melakukan perubahan harga BBM selama masa pemerintahannya.

Pada 2014, tidak lama setelah menjabat, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Harga premium yang sebelumnya Rp6.500 per liter menjadi Rp8.500 per liter, sementara solar naik dari Rp5.150 menjadi Rp6.500 per liter.
Pada 2015, harga kembali mengalami perubahan. Begitu pula pada 2018, ketika harga Pertalite naik menjadi Rp7.800 per liter.
Kemudian pada 2022, harga Pertalite kembali dinaikkan menjadi Rp10.000 per liter. Pemerintah ketika itu antara lain beralasan bahwa beban subsidi membesar dan anggaran negara perlu dialihkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan.

Jokowi memang dikenal dengan julukan “Presiden Infrastruktur” karena pembangunan infrastruktur menjadi salah satu ciri utama pemerintahannya. Namun, pembangunan fisik seharusnya tetap berjalan beriringan dengan perhatian terhadap masyarakat kecil. Jangan sampai pembangunan jalan, jalan tol, dan berbagai proyek besar justru membuat pemerintah kurang peka terhadap jeritan rakyat yang sehari-hari bergelut dengan kebutuhan dasar.

Kini pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi persoalan yang sama.
Pada masa kampanye Pilpres 2024, isu penurunan harga BBM menjadi salah satu janji yang menarik perhatian masyarakat. Namun, hingga kini harapan masyarakat terhadap penurunan harga BBM tersebut belum sepenuhnya terwujud.

Bagi masyarakat nelayan, persoalan harga BBM bukan sekadar persoalan angka di papan harga SPBU.
Harga BBM menentukan apakah mereka bisa melaut atau tidak.
Ketika biaya bahan bakar meningkat, sementara hasil tangkapan tidak menentu, nelayan berada dalam posisi yang sangat rentan. Pendapatan menurun, sementara kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional terus berjalan.
Akibatnya, utang nelayan semakin bertumpuk.
Kembali kepada persoalan nelayan di kawasan Tasikmalaya Selatan.

Seperti ungkapan yang pernah dimuat Kompas, nelayan harus mampu “menaklukkan laut sebelum laut menaklukkan kita.”
Nelayan di Cipatujah, Pamayang, Cikalong, hingga kawasan pesisir selatan membutuhkan keberpihakan nyata pemerintah.
Persoalan mereka bukan hanya soal modal.
Mereka membutuhkan kapal tangkap yang memadai, peralatan keselamatan, pengetahuan mengenai kondisi laut, teknologi penangkapan ikan, serta pengetahuan mengenai potensi sumber daya hayati laut.

Laut selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia memiliki potensi sumber daya laut yang besar. Karena itu, nelayan tidak cukup hanya dibekali perahu kecil dan jaring.
Mereka harus dibekali ilmu kelautan praktis agar mampu membaca kondisi laut dan melakukan penangkapan ikan di laut lepas secara aman dan produktif.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus hadir lebih nyata di tengah masyarakat nelayan.
Program pelatihan kelautan perlu diperkuat. Penyuluh perikanan dan kelautan juga harus benar-benar aktif mendampingi nelayan di setiap sentra atau pelabuhan perikanan.

Nelayan jangan hanya menjadi penerima bantuan.
Mereka harus menjadi pelaku utama yang memiliki pengetahuan, keterampilan, peralatan, dan keberanian untuk mengembangkan usaha perikanannya.

Kita bisa belajar dari masyarakat Bugis-Makassar yang sejak dahulu dikenal memiliki tradisi sebagai pelaut. Pengetahuan mengenai arah angin, gelombang, arus, musim ikan, hingga teknik bertahan di laut diwariskan secara turun-temurun.
Pengetahuan semacam itu perlu dikombinasikan dengan teknologi modern, sistem navigasi, prakiraan cuaca, komunikasi, keselamatan pelayaran, dan informasi potensi perikanan.
Dengan bekal tersebut, bukan tidak mungkin nelayan pesisir selatan mampu melakukan operasi penangkapan ikan selama berhari-hari di tengah laut dengan tetap memperhatikan keselamatan dan keberlanjutan sumber daya.

Ada ungkapan lokal yang menarik: kawasan laut selatan sering dikaitkan dengan legenda Nyi Roro Kidul.
Terlepas dari keyakinan dan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, yang lebih penting adalah bagaimana manusia menghadapi laut dengan ilmu pengetahuan, teknologi, keberanian, dan penghormatan terhadap alam.
Laut tidak boleh hanya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan.
Laut adalah sumber kehidupan.
Karena itu, tugas pemerintah adalah membantu nelayan agar mampu mengelola dan memanfaatkan laut secara aman, produktif, serta berkelanjutan.
Taklukkan laut sebelum laut menaklukkan kita.
Bukan dengan kesombongan.
Bukan dengan melawan alam.
Tetapi dengan ilmu pengetahuan, teknologi, keberanian, kemandirian, dan keberpihakan pemerintah kepada nelayan.
Sudah waktunya nelayan Tasik Selatan bangkit.
Jangan sampai mereka terus-menerus terjebak dalam lingkaran cuaca buruk, mahalnya BBM, hasil tangkapan yang tidak menentu, dan utang yang semakin menumpuk.
Pemerintah harus hadir.
Sebab negara tidak boleh hanya datang ketika laut sedang tenang.
Negara justru harus hadir ketika nelayan sedang berjuang menghadapi gelombang. (*)

15 Siswa SMA Negeri Tomo Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG

0

SUMEDANG (Aswajanews.id) — Sebanyak 15 siswa SMA Negeri Tomo, Kabupaten Sumedang, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026).

Para siswa tersebut mendapatkan penanganan medis di UPT Puskesmas Tomo dan UPT Puskesmas Ujungjaya setelah mengeluhkan sejumlah gejala, di antaranya pusing, mual, dan muntah.

Menu MBG yang disantap sekitar pukul 10.00 WIB itu terdiri atas nasi putih, ayam asam manis, tempe goreng, tumis sawi putih, dan buah lengkeng. Beberapa waktu setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mulai mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan yang mereka konsumsi.

Salah seorang siswi SMA Negeri Tomo, Kusuma Dewi, mengaku mulai merasakan panas dan pusing sekitar 30 menit hingga satu jam setelah menyantap menu MBG.

Menurut Kusuma Dewi, terdapat perbedaan pada saus yang disajikan dalam menu tersebut. Ia juga mengaku pernah mengalami kejadian serupa dan menyebut dirinya sudah dua kali mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Kondisi tersebut membuatnya mengaku kapok untuk kembali menyantap menu MBG.

Sementara itu, Eti, salah seorang orang tua siswa, mengaku mendapat kabar mengenai kondisi anaknya sekitar pukul 17.00 WIB. Ia mengatakan, anaknya dalam kondisi sehat saat berada di rumah sebelum berangkat ke sekolah.

Menurut cerita anaknya, sebelum mengalami mual dan muntah, ia sempat menyantap menu MBG berupa daging ayam yang dicampur dengan nanas.

Eti mengaku khawatir karena kejadian serupa disebut telah dialami anaknya untuk kedua kalinya.

Atas kejadian tersebut, pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan. Pemicu kejadian hingga kini belum terungkap dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Para siswa yang mendapatkan penanganan medis mulai pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 19.40 WIB dilaporkan berangsur pulih. Setelah mendapatkan penanganan, mereka diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
(Wem Askin)

Semarak Haornas 2026, MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Tanamkan Semangat Sehat dan Bahagia

0

BREBES (Majalahukum.com) – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Brebes, berlangsung penuh semangat dan keceriaan, Rabu (9/9/2026). Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan olahraga dengan antusias sebagai bagian dari upaya madrasah menanamkan budaya hidup sehat sekaligus memperkuat pendidikan karakter sejak dini.

Kegiatan Haornas tidak sekadar menjadi momentum untuk menggerakkan tubuh. Di balik aktivitas senam dan jalan-jalan bersama, terselip pembelajaran tentang kedisiplinan, kebersamaan, kepatuhan terhadap aturan, serta semangat pantang menyerah.

Seluruh murid mengikuti kegiatan senam dengan penuh antusias dengan mengikuti irama musik. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ibu Sulastri, yang mampu menghidupkan suasana sehingga para siswa mengikuti setiap gerakan dengan penuh keceriaan.

Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Akhmad Sururi, mengatakan olahraga memiliki posisi penting dalam proses pendidikan anak. Menurutnya, aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga membangun semangat dan kebahagiaan.

“Olahraga bukan semata-mata gerakan badan. Di dalam olahraga ada pendidikan disiplin, aturan pergerakan, pengaturan napas, gerakan otot, dan sikap pantang menyerah. Nilai-nilai inilah yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini,” ujarnya.

Menurut Akhmad Sururi, pendidikan yang baik harus mampu memperhatikan perkembangan anak secara utuh. Kecerdasan akademik tidak dapat berdiri sendiri, tetapi perlu berjalan seimbang dengan kesehatan jasmani, kematangan sosial, serta pembentukan akhlak. Karena itu, momentum Haornas menjadi pengingat bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan pendidikan yang mendorong mereka untuk aktif bergerak dan menjalani pola hidup sehat.

“Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat raganya, kuat karakternya, baik akhlaknya, dan memiliki semangat untuk berprestasi. Madrasah harus menjadi tempat tumbuh yang menyenangkan bagi mereka,” tambah Akhmad Sururi.

Selain menjaga kebugaran, kegiatan olahraga juga menjadi sarana mempererat hubungan antarsiswa. Mereka belajar saling menyemangati, menghargai kemampuan teman, menaati aturan, serta bergerak bersama dalam satu komando. Kebiasaan positif tersebut diharapkan tidak berhenti pada peringatan Haornas.

Semangat berolahraga sejak dini diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang terus terbawa hingga mereka dewasa. Haornas 2026 di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa menjadi bagian dari ikhtiar madrasah membangun ekosistem pendidikan yang menyentuh seluruh aspek perkembangan peserta didik.

Olahraga, pendidikan karakter, pembelajaran agama, literasi, dan pengembangan potensi anak dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Dari kegiatan sederhana di lingkungan madrasah, para siswa diajak memahami nilai-nilai besar dalam kehidupan: berusaha dengan sungguh-sungguh, menghargai orang lain, tidak mudah menyerah, bekerja sama, serta tetap rendah hati ketika meraih keberhasilan.

Semangat tersebut diharapkan menjadi bekal bagi siswa MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, religius, berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan.Semangat Haornas 2026:

Para siswa MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa mengikuti kegiatan olahraga dengan penuh antusias dan keceriaan. Momentum ini menjadi ruang untuk menanamkan budaya hidup sehat, kebahagiaan, kebersamaan, serta ketangguhan dalam setiap langkah. (Red)

BNNP Lampung Perkuat Kolaborasi P4GN, PANI Dorong Gerakan Antinarkoba

0

BANDARLAMPUNG (Aswajanews.id) – Perang melawan narkotika membutuhkan kerja bersama yang melampaui batas institusi dan wilayah. Pencegahan tidak cukup dilakukan melalui penindakan, tetapi harus diperkuat dengan edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta kolaborasi hingga tingkat masyarakat dan pemerintahan desa.

Semangat tersebut mengemuka dalam silaturahmi dan audiensi Pengurus DPW Penggiat Anti Narkoba Indonesia (PANI) Provinsi Lampung dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, Rabu (9/9/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kantor BNNP Lampung, Jalan Ikan Bawal No. 92, Kangkung, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandarlampung, menjadi momentum untuk memperkuat sinergi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Budi Wibowo, SH, S.I.K., MH menegaskan bahwa lembaganya terbuka terhadap kolaborasi dengan para penggiat antinarkoba.

BNNP Lampung, kata Budi, siap menjadi fasilitator bagi para penggiat P4GN, termasuk dalam peningkatan kapasitas melalui pelatihan yang diselenggarakan BNN.

“BNNP Lampung siap menjadi fasilitator para penggiat narkoba dalam penanganan P4GN untuk mengikuti pelatihan di BNN,” ujar Budi.

Menurutnya, penguatan kapasitas menjadi faktor penting karena para penggiat akan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Sebelum melakukan sosialisasi di lingkungan pendidikan maupun masyarakat, mereka harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai P4GN, pengetahuan tentang bahaya narkotika dan keterampilan pendukung lainnya.

Budi juga mendorong agar para penggiat memiliki sertifikasi dari BNN sehingga edukasi yang disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar kompetensi yang jelas.

Budi menempatkan BNNP Lampung sebagai salah satu ujung tombak pencegahan narkotika di tengah masyarakat. Menurutnya, pelayanan P4GN harus terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi objek sosialisasi, tetapi ikut menjadi bagian dari sistem pencegahan.

Posisi Lampung juga memiliki arti strategis. Provinsi ini menjadi salah satu jalur penghubung utama Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, termasuk melalui kawasan Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Kondisi geografis tersebut membuat penguatan pengawasan dan pencegahan narkotika membutuhkan kerja lintas lembaga dan lintas komunitas.

Brigjen Pol Budi Wibowo bukan sosok baru di Lampung. Ia sebelumnya pernah dipercaya menjabat Kepala BNNP Lampung sekitar Juni 2023. Setelah menjalani sejumlah penugasan, Budi kembali dipercaya memimpin BNNP Lampung sejak 26 Februari 2026. Sebelum kembali ke Lampung, Budi disebut pernah menjabat Kepala BNNP Kalimantan Barat.

Ia juga pernah menduduki posisi Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang pada Deputi Bidang Pemberantasan BNN. Dalam perjalanan kariernya, ia juga pernah menjalankan tugas di lingkungan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Saat bertugas di Kalimantan Barat, Budi mengungkapkan pernah terlibat dalam pengungkapan peredaran narkotika dalam jumlah besar yang diduga berasal dari Malaysia.

Dalam salah satu pengungkapan yang disebut terjadi sekitar akhir Mei 2022, aparat mengamankan lima tersangka beserta barang bukti sabu dengan berat puluhan kilogram.

Ketua DPW PANI Provinsi Lampung Sapron bergelar Khadin Imba Kesuma menyambut positif penguatan komunikasi dengan BNNP Lampung. Sapron didampingi Kepala Advokasi PANI Lampung Bara Suwardi, SH dan Penasehat Marhan Idris.

Dalam audiensi tersebut, PANI memaparkan visi, misi, program kerja serta sejumlah kegiatan P4GN yang telah dilakukan di masyarakat.

Sapron berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi, tetapi menjadi awal penguatan kerja sama yang konkret.

“Dengan silaturahmi hari ini diharapkan dapat menjadi pelajaran dan bekal ke depannya bersama BNNP Lampung dalam penguatan kolaborasi P4GN untuk pencegahan dan edukasi,” kata Sapron.

Menurutnya, ancaman narkotika membutuhkan respons bersama karena jaringan peredaran gelap dapat bergerak melintasi wilayah dan bahkan batas negara.

Kepala Advokasi PANI Lampung Bara Suwardi menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam agenda P4GN.Ia mengatakan PANI berupaya membantu negara melalui edukasi kepada pelajar, keluarga dan masyarakat.Bara juga menyatakan kesiapannya menyediakan tempat untuk kegiatan formal maupun informal berkaitan dengan P4GN di Taman Wisata Hutan Kayu Gunung Beranti.

“PANI dalam melaksanakan kegiatan P4GN adalah membantu negara, baik di kalangan pelajar maupun dengan mengharapkan peran serta orang tua dan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Bara, upaya pencegahan harus dibangun dari berbagai lapisan. Tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga sekolah, keluarga, organisasi masyarakat hingga pemerintah desa.

Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI), dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus mempersempit ruang gerak peredaran gelap narkotika.

Pertemuan BNNP Lampung dan PANI memperlihatkan bahwa perang terhadap narkotika semakin membutuhkan pendekatan kolaboratif. Penindakan tetap penting, tetapi pencegahan menjadi benteng pertama. Edukasi di sekolah, ketahanan keluarga, peningkatan kapasitas penggiat, serta keterlibatan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih tahan terhadap ancaman narkotika.

Lampung, dengan posisi geografisnya yang strategis, menghadapi tantangan sekaligus memiliki peluang menjadi salah satu pusat penguatan gerakan P4GN di tingkat masyarakat. Dari Lampung untuk Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia. Perang melawan narkoba membutuhkan keberanian, kolaborasi dan konsistensi. (Humas DPW PANI Lampung)

Enam Murid MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Ikuti OMI 2026

0

BREBES (Aswajanews.id) — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa untuk menunjukkan semangat dan prestasi peserta didik di bidang akademik.

Sebanyak 6 murid dari MI Sirojut Tholibin mengikuti kegiatan tersebut pada hari Rabu, 9 September 2026 di MTsN 1 Brebes yang beralamat di Ketanggungan. Enam murid yang ikut OMI tahun 2026 adalah Mirza Hakim kelas 6, Fadlan Badrutamam kelas 6 , Kesya Mezzaluna kls 5, Adziba Misykatul Ulya kelas 5 , Farah Maulida kls 6 dan Aliran Syahreza kls 5.

Ke-enam peserta tersebut dibagi menjadi dua sesi. Adapun mata pelajaran dalam OMI 2026 adalah Matematika Terintegrasi dan IPAS Terintegrasi. Kedua mapel tersebut sebelum sudah disiapkan oleh peserta dengan mendapatkan bimbingan dari guru MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa.

Keikutsertaan dalam OMI bukan sekadar mengejar juara, tetapi menjadi ruang bagi para siswa untuk mengembangkan potensi, keberanian, daya pikir, serta pengalaman berkompetisi secara sehat bersama peserta didik madrasah lainnya.

Hal ini sangat penting karena potensi pengetahuan harus kita pupuk sejak usia di MI. MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, terus berkomitmen mengembangkan pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, akhlak, dan karakter.

Komitmen tersebut sejalan dengan visi madrasah dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.Kegiatan OMI Tahun 2026 diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi para peserta didik.

Mereka belajar bahwa sebuah kompetisi bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi juga tentang proses belajar, disiplin, kerja keras, percaya diri, dan sportivitas.

Lebih dari itu tentu kompetensi literasi digital menjadi dasar utama untuk mengikuti OMI. Bagi MI Sirojut Tholibin, setiap siswa yang berani tampil dalam kompetisi adalah bagian dari prestasi madrasah.

Mereka sedang belajar membawa nama baik madrasah sekaligus membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.Semoga keikutsertaan MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa dalam OMI 2026 menjadi langkah menuju prestasi yang lebih tinggi. Dengan dukungan guru, orang tua, dan masyarakat, madrasah dapat terus melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, berprestasi, dan siap menyongsong masa depan. (Red)

KEPALA DESA DAN CITA-CITA KEMERDEKAAN: REFLEKSI MENJELANG PILKADES SERENTAK PEMALANG

0

Sosok kepala desa atau lurah sangat berperan penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka yang setiap hari berhadapan dengan realitas kehidupan rakyat yang paling bawah. Di sanalah potret atau landscape peradaban Indonesia bisa dilihat tanpa membuka data sensus dari pihak mana pun.

Di desalah suara penderitaan yang paling nyaring didengar, karena desa adalah telinga realitas kehidupan. Di desalah mata batin peradaban muncul. Di desa juga bersemayam budaya, tradisi, dan watak Indonesia.

Melihat Indonesia, lihatlah desa. Karena desa, bagi saya, adalah kemandirian sejati yang jarang berteriak apa pun, kecuali doa-doa tengah malam demi kemajuan sebuah bangsa. Dan dari desa, akar pergerakan Indonesia bermunculan.

Momen pemilihan kepala desa serentak Kabupaten Pemalang ini menjadi momentum refleksi bursa transfer kepemimpinan yang nyata. Mampukah calon-calon kepala desa berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia?

Berdasarkan Undang-Undang tentang Desa, kepala desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat di desa.

Melihat tugas kepala desa tersebut, dibutuhkan kesiapan mental dan batin yang sangat kuat untuk melaksanakan amanat tersebut demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Mari melihat fakta di lapangan. Apakah calon kepala desa sudah siap secara lahir dan batin melaksanakan amanat besar tersebut? Apakah masyarakat memilih karena pertimbangan konkret mengenai kesiapan tersebut? Apakah masyarakat masih berdiskusi dalam forum-forum kelompok, warung kopi pojok desa, membedah kesiapan lahir dan batin serta mental calon kepala desa? Apakah rakyat masih peduli untuk berdiskusi tentang nasib dan kemajuan desanya? Atau masyarakat hanya menunggu amplop-amplop dibagikan oleh pecut atau tim sukses calon kepala desa? Refleksi mendalam ini menjadi cermin bagi calon kepala desa dan masyarakat agar cita-cita kemerdekaan Indonesia bisa terwujud.

Melalui momentum pemilihan kepala desa, mari seluruh lapisan masyarakat berdiskusi di forum-forum kecil, forum kepemudaan, forum jagongan, warung kopi, dan pojok-pojok desa. Pertanyakan dan bedah visi-misi calon kepala desa agar momentum membangun peradaban konkret melalui pemerintahan desa tidak hanya menjadi ajang gengsi untuk memperlihatkan kemampuan finansial, tetapi juga menunjukkan kemampuan lahir dan batin serta kepedulian terhadap desa berdasarkan perjalanan hidupnya.

Apakah selama ini calon kepala desa adalah sosok yang peduli dan bertanggung jawab terhadap problem masyarakat?

Apakah calon kepala desa pernah menjadi RT, RW, Kadus, Ketua Karang Taruna, atau ketua komunitas apa pun di desa?

Bagaimana track record pengabdiannya terhadap masyarakat? Sehingga bukan hanya wani piro? Piro amplope? Piro duite? Piro hadiahe? Tetapi, bagaimana pikirannya?Bagaimana hatinya? Bagaimana kepeduliannya terhadap rakyat miskin dan tertindas di desa-desa? Diskusikan dan pertanyakan itu semua demi peradaban desa.

Masyarakat jangan hanya mau menerima amplop, tetapi gagal menitipkan mandat dan amanat konstitusi kepada orang yang tidak siap dan tidak mampu melaksanakan amanat tersebut. Mengingat menjadi pejabat publik paling tidak harus memiliki dua syarat, yaitu kompetensi dan moralitas, maka kemudian ada tiga tahap untuk melihat sosok calon pejabat publik, atau dalam hal ini calon kepala desa, sebelum masyarakat menentukan pilihan atau labuhan dermaga politiknya.

Tiga tahap tersebut adalah:

1. ETIKABILITAS

Merupakan kemampuan masyarakat untuk melihat bagaimana karakter, sikap, kepribadian, dan komitmen terhadap Merah Putih yang menjadi integritas serta etos kerja dalam menjalani kehidupan selama ini.Pertanyakan itu dalam hatimu.Bagaimana karakter calon kepala desa?Bagaimana sikapnya terhadap masyarakat?Bagaimana kepribadiannya?Bagaimana komitmennya terhadap bangsa dan negara?Semua itu merupakan bagian penting untuk melihat sosok calon pemimpin desa.

2. INTELEKTUALITAS

Merupakan barometer masyarakat dalam melihat kualitas pendidikan calon kepala desa.Di mana belajarnya?Siapa gurunya?Apakah mengamalkan ilmunya dalam melaksanakan pengabdian dan kerja-kerja konkret membangun desa selama ini?Mampukah berbicara tentang pembangunan desa dan tata kelola sistem pemerintahan?Mampukah mengorganisir rakyat?Mampukah menjadi garda terdepan meyakinkan rakyat tentang Indonesia Emas 2045 melalui kekuatan desa, baik secara budaya maupun sumber daya yang ada di desa?Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dijawab sebelum masyarakat menentukan pilihan.

3. ELEKTABILITAS

Merupakan anggapan masyarakat tentang trust atau kepercayaan, keyakinan rakyat terhadap calon bapak atau ibu kepala desa. Siapa yang hidup di hati rakyat sebagai pelindung dan penjaga moral bangsa? Siapa yang konsisten mengajak rakyat hidup rukun dan bersatu, menjunjung tinggi gotong royong? Siapa yang selama ini berjuang ingin mewujudkan cita-cita pembangunan desa? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kepala desa bukan hanya seseorang yang memenangkan pemilihan, tetapi seseorang yang nantinya menerima amanat masyarakat.

Tiga tingkatan itulah yang menjadi landasan dasar untuk menentukan arah desa.Kepada siapa amanat ini pantas kami titipkan? Maka, momentum pemilihan kepala desa harus menjadi momentum kesadaran bersama. Kesadaran calon kepala desa untuk menunjukkan kesiapan lahir dan batin, serta kesadaran masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan kompetensi, moralitas, rekam jejak, dan kepedulian terhadap desa.

Jangan sampai demokrasi desa hanya berhenti pada persoalan siapa mendapatkan suara terbanyak. Lebih dari itu, mari kita pertanyakan kepada siapa masa depan desa akan dititipkan.Selamat berkontestasi. Cerdaslah dalam memilih. (*)

Semarak Haornas 2026, SDN Kaliwlingi 01 Brebes Gelar Senam, Jalan Sehat hingga Bagi Doorprize

0

BREBES (Aswajanews.id) – Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Semangat hidup sehat dan kebersamaan terasa ketika keluarga besar sekolah tersebut mengikuti rangkaian kegiatan olahraga, Rabu (9/9/2026).

Dimulai sejak pukul 07.00 WIB, kegiatan berlangsung meriah dengan mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”. Senam pagi dan jalan sehat menjadi kegiatan utama yang melibatkan guru, staf, siswa hingga wali murid.

Suasana semakin semarak dengan pembagian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah, mulai dari hadiah hiburan hingga hadiah utama. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan yang sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes.

Koordinator kegiatan, Fatni Fitri Nuryanti, S.Pd., menegaskan bahwa peringatan Haornas kali ini tidak hanya ditujukan untuk mengenang momentum olahraga nasional, tetapi juga mendorong keluarga besar sekolah agar lebih aktif menjaga kesehatan.

Kegiatan ini bertujuan selain sebagai peringatan Haornas juga untuk membuat sehat keluarga besar SD Negeri Kaliwlingi 01 dan semangat kekeluargaan,” ujar Fatni.

Menurutnya, olahraga bersama menjadi sarana sederhana untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus memperkuat kebersamaan antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Apresiasi juga disampaikan Kepala SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes, Wargiyanto, S.Pd. Ia memberikan penghargaan kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berkontribusi sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan tertib dan meriah.

Sementara itu, kegiatan dibuka oleh Solichin, S.Pd.I. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat serta memanjatkan doa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan memberikan manfaat.

Peringatan Haornas di SDN Kaliwlingi 01 Brebes akhirnya bukan hanya menghadirkan aktivitas fisik, tetapi juga membangun ruang kebersamaan. Guru, siswa, staf, dan wali murid melebur dalam satu kegiatan yang membawa pesan sederhana: sekolah sehat dimulai dari warga sekolah yang aktif dan bugar.

Haornas dan Sejarah Olahraga Nasional

Hari Olahraga Nasional diperingati setiap 9 September berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.
Pemilihan tanggal tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta (Solo) pada 9–12 September 1948. PON pertama tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan olahraga Indonesia sekaligus merepresentasikan semangat persatuan dan kedaulatan bangsa melalui olahraga.

Semangat tersebut kemudian dihidupkan kembali di lingkungan sekolah melalui kegiatan sederhana namun sarat kebersamaan.
(Red)

FKDT dan Pergerakan Komunitas Pendidikan Keagamaan Menuju Indonesia Hebat

0

Indonesia hebat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia yang hebat juga lahir dari manusia yang memiliki ilmu, karakter, akhlak, kepedulian sosial, serta fondasi spiritual yang kuat.

Di sinilah pendidikan keagamaan memiliki posisi yang sangat strategis. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, lembaga pendidikan keagamaan—termasuk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT)—terus memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dalam konteks tersebut, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) tidak semestinya hanya dipandang sebagai organisasi administratif atau wadah koordinasi lembaga MDT. FKDT merupakan bagian dari gerakan komunitas pendidikan keagamaan yang memiliki tanggung jawab besar untuk menguatkan eksistensi pendidikan diniyah sekaligus menjawab tantangan pendidikan masa depan.

FKDT sebagai Gerakan Komunitas

Kekuatan pendidikan keagamaan sesungguhnya berada pada komunitas. Ada guru, ustaz, pengelola MDT, orang tua, tokoh agama, pesantren, organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan masyarakat yang saling terhubung.

FKDT hadir untuk mempertemukan kekuatan-kekuatan tersebut.

Karena itu, FKDT perlu terus bergerak dari pola kerja yang bersifat administratif menuju gerakan komunitas yang produktif, kolaboratif, dan transformatif.

Gerakan itu dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru, peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan kurikulum, pemanfaatan teknologi, penguatan manajemen lembaga, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak.

FKDT harus menjadi rumah bersama bagi para penggerak pendidikan keagamaan.

Guru MDT adalah Penggerak Utama

Tidak mungkin membangun pendidikan keagamaan yang kuat tanpa memperkuat gurunya.

Guru MDT bukan sekadar pengajar materi keagamaan. Mereka adalah pendidik yang ikut membentuk cara berpikir, sikap, kebiasaan, dan karakter anak.

Karena itu, peningkatan kualitas guru harus menjadi agenda utama FKDT. Pelatihan, forum berbagi pengalaman, pengembangan kompetensi, literasi digital, dan penguatan metodologi pembelajaran perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang memiliki semangat belajar.

Guru yang mengajarkan keteladanan akan membantu melahirkan generasi yang memahami bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.

Dari Tradisi ke Transformasi

Pendidikan diniyah memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Tradisi mengaji, sorogan, bandongan, hafalan, pembiasaan ibadah, adab kepada guru dan orang tua, serta kehidupan sosial yang religius merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang. Namun mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan.

Justru tantangan kita adalah bagaimana menghubungkan kekuatan tradisi dengan kebutuhan generasi masa kini.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia digital. Mereka membutuhkan kemampuan literasi, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Semua itu dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan agama.

MDT harus mampu melahirkan generasi yang melek teknologi tetapi tetap berakhlak, modern tetapi tidak kehilangan akar tradisi, dan terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Di sinilah FKDT mempunyai ruang perjuangan yang sangat besar.

Membangun Ekosistem Pendidikan Keagamaan

Pendidikan tidak boleh dibebankan hanya kepada sekolah atau madrasah.

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama. Madrasah menjadi ruang pembelajaran yang terstruktur. Masjid menjadi pusat pembinaan spiritual dan sosial. Pesantren menjadi salah satu sumber tradisi keilmuan. Masyarakat menjadi lingkungan yang memberikan keteladanan.

Karena itu, masa depan MDT membutuhkan ekosistem pendidikan keagamaan.

FKDT dapat mengambil peran sebagai penghubung berbagai elemen tersebut. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, pesantren, masjid, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat perlu terus diperkuat.

Semakin luas kolaborasi, semakin kuat pula daya tawar pendidikan keagamaan.

FKDT dan Masa Depan Generasi Bangsa

Kita sering berbicara tentang bonus demografi. Namun jumlah penduduk usia produktif saja tidak otomatis menjadi kekuatan bangsa.

Bonus demografi akan menjadi berkah apabila generasinya memiliki kompetensi, karakter, etos kerja, tanggung jawab sosial, dan moralitas.

Di sinilah pendidikan keagamaan mengambil bagian.

MDT mungkin berada di lingkungan masyarakat yang sederhana. Gedungnya mungkin tidak selalu megah. Sarana dan prasarananya mungkin masih terbatas. Tetapi dari ruang-ruang sederhana itulah nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta kecintaan kepada agama dan bangsa terus ditanamkan.

Maka jangan pernah menganggap kecil peran pendidikan diniyah.

Bisa jadi, dari sebuah madrasah diniyah di desa, sedang tumbuh calon guru, ulama, pemimpin, pengusaha, birokrat, teknokrat, dan tokoh masyarakat yang kelak memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.

Menuju Indonesia Hebat

Indonesia hebat membutuhkan pembangunan manusia seutuhnya.

Kemajuan teknologi membutuhkan etika. Kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan. Kekuasaan membutuhkan integritas. Kemajuan ekonomi membutuhkan kejujuran. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab.

Semua itu memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan.

Karena itu, FKDT harus terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan penguatan pendidikan keagamaan. Bukan sekadar bergerak ketika ada agenda organisasi, tetapi hadir secara konsisten mendampingi lembaga, memperjuangkan guru, meningkatkan mutu pendidikan, dan membangun kolaborasi.

Gerakan FKDT harus bergerak dari bawah, tumbuh bersama masyarakat, dan memberikan manfaat nyata.

Dari MDT kita menanam ilmu.
Dari guru kita menanam keteladanan.
Dari keluarga kita menanam nilai.
Dari masyarakat kita membangun kepedulian.
Dan dari semuanya kita menyiapkan generasi Indonesia hebat.

Pada akhirnya, FKDT bukan hanya tentang organisasi. FKDT adalah tentang gerakan bersama untuk memastikan pendidikan keagamaan tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman.

Jika gerakan ini dilakukan dengan konsisten, kolaboratif, dan penuh keikhlasan, maka pendidikan keagamaan akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, berakhlak, dan bermartabat.

Indonesia hebat bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi Indonesia yang manusianya kuat ilmu, kokoh iman, luhur akhlak, dan besar kepeduliannya kepada bangsa.

FKDT bergerak, pendidikan keagamaan menguat, generasi hebat tumbuh, Indonesia maju.

10 Tahun Berjuang, PAUD An-Nur Ciamis Masih Setengah Jadi, Butuh Uluran Tangan

0

CIAMIS (Aswajanews.id) – Selama satu dekade, Cucu Nurhayati konsisten mengabdikan diri mendirikan dan mengelola Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) An-Nur yang berlokasi di Dusun Pabrik, Blok Ranca Brerem, RT 17/08, Desa Cihalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Yayasan yang berdiri sejak 2015 tersebut lahir dari keprihatinan Cucu melihat masih banyak anak-anak di lingkungan sekitar yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini. Kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah serta jarak menuju lembaga PAUD terdekat menjadi salah satu kendala.

“Di sini mayoritas bukan orang berada. Kalau mau sekolah PAUD harus jauh. Makanya banyak yang putus sekolah,” ujar Cucu saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).

Kini, PAUD An-Nur menampung sekitar 20 anak didik. Tidak hanya dari lingkungan sekitar, sejumlah peserta didik juga berasal dari wilayah lain di sekitar Desa Cihalang.

Namun, perjuangan tersebut masih menghadapi persoalan besar. Di tengah keterbatasan pembiayaan, pembangunan gedung yayasan yang berdiri di atas lahan seluas 20 bata atau sekitar 280 meter persegi hingga kini belum juga rampung.

Bangunan tersebut baru mencapai sekitar 50 persen dari keseluruhan pembangunan. Kondisi ini membuat pengembangan sarana dan prasarana pendidikan masih sangat bergantung pada kemampuan finansial pribadi pengelola.

Cucu berharap pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Ciamis, dapat memberikan perhatian terhadap kondisi PAUD An-Nur, khususnya membantu menyelesaikan pembangunan gedung yang hingga kini masih terbengkalai.

“Harapannya ada bantuan,” ungkapnya.

Bagi Cucu, mendirikan dan mengelola PAUD bukan sekadar menjalankan kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dalam membangun karakter dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak sejak usia dini.

“Usia PAUD itu usia emas. Tujuannya supaya anak-anak punya bekal ilmu sejak dini dan bisa mengurangi angka putus sekolah,” tegasnya.

Selama ini, Yayasan PAUD An-Nur masih beroperasi secara mandiri dengan mengandalkan kemampuan keuangan pribadi pengelola. Di tengah keterbatasan tersebut, semangat untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah sekitar tetap dipertahankan.
Sepuluh tahun perjalanan PAUD An-Nur menjadi gambaran perjuangan pendidikan di tingkat akar rumput. Di satu sisi, kegiatan belajar bagi puluhan anak terus berjalan, namun di sisi lain, pembangunan gedung yang menjadi penunjang utama proses pendidikan masih menunggu uluran tangan.
(Nana S)

Penataaan dan Restorasi Mangrove Tambak Pantura Sebagai Program Prioritas Nasional

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang terus mematangkan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah guna mengawal percepatan Program Prioritas Nasional Revitalisasi Tambak Pantura Jawa Barat.

Sekretaris Daerah Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP, MP didampingi Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan menghadiri Rapat Koordinasi Revitalisasi Tambak Nila Salin Pantai Pantura di Sekretariat Negara, Jakarta Pusat (08/09).

Langkah ini difokuskan pada penyelesaian dinamika tata batas lahan, kepastian tata ruang, hingga pendekatan sosial bagi masyarakat terdampak.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan total luas kawasan revitalisasi mencapai 14.067,5 hektar.Sekda menekankan keterbukaaninformasi, kepastian lokasi relokasi warga, serta skema pascaproyek. Sementara progress pemetaan batas kawasan saat ini sudah 50%.

“Kondisi saat ini memiliki kompleksitas yang agak berbeda dan membutuhkan keterbukaan pelaksanaan program.Perlu ada kejelasan mengenai dua poin utama, yaitu skema investasi serta arah kebijakan pasca-program kedepannya,” ujar Sekda.

Atas nama Pemerintah Daerah, Bupati Karawang menyatakan dukungan penuh terhadap program nasional ini, karena diyakini dapat membawa dampak positif bagi penataan lingkungan, restorasi kawasan mangrove, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Pantura.

Pemerintah Kabupaten Karawang mendukung penuh Proyek Strategis nasional dengan sinergi seluruh aparat di lapangan yang kini siap bergerak dan tinggal menunggu arahan teknis serta koordinasi lebih lanjut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. (Ahmad Z)

Kajati Jabar Kunjungi Kejari Cimahi dan Kota Bandung, Tekankan Integritas dan Kinerja

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat M. Teguh Darmawan melakukan kunjungan kerja ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Cimahi dan dilanjutkan ke Kejari Kota Bandung, Selasa (8/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kajati didampingi Wakajati Jabar Dr. Desy Meutia Firdaus, Asisten Intelijen Donny Haryono Setyawan, S.H., M.H., Asisten Tindak Pidana Khusus Agung Arifianto, S.H., M.H., serta Kepala Bagian Tata Usaha.

Kunjungan kerja itu tidak sekadar meninjau kondisi kantor. Kajati juga mengecek sarana dan prasarana, termasuk ruang barang bukti serta manajemen pemeliharaan barang bukti di lingkungan Kejari.

Kajati kemudian bertatap muka langsung dengan jajaran pegawai di masing-masing Kejari.

Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya menjaga nama baik dan marwah institusi Adhyaksa melalui pelaksanaan tugas yang profesional, berintegritas, disiplin, dan sesuai tugas pokok serta fungsi masing-masing bidang.

“Sebagai insan Adhyaksa, seluruh pegawai harus turut serta menjaga nama baik dan marwah institusi,” demikian penekanan Kajati dalam arahannya.

Menurutnya, peningkatan kinerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, seluruh jajaran didorong untuk bekerja secara profesional, responsif, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kajati juga meminta setiap bidang mengoptimalkan tugas dan fungsinya. Di antaranya melalui penyelesaian perkara yang mengedepankan pendekatan restorative justice, penyusunan legal opinion yang berkualitas dan solutif, serta peningkatan kualitas pelayanan hukum.

Penegakan hukum, lanjutnya, harus dilaksanakan secara profesional, berkeadilan, dan berintegritas.Tak hanya memberikan arahan, Kajati membuka ruang dialog dengan para pegawai. Berbagai masukan dan kendala yang dihadapi jajaran dalam pelaksanaan tugas didengarkan secara langsung untuk kemudian dicari solusi bersama.

Melalui kunjungan dan dialog tersebut, Kajati berharap jajaran Kejari Cimahi dan Kejari Kota Bandung terus meningkatkan kinerja, mempertahankan integritas, serta menjaga kehormatan institusi.

Ia menekankan, setiap tugas dan tanggung jawab harus dijalankan dengan penuh dedikasi demi mewujudkan Kejaksaan yang profesional, berintegritas, dan semakin dipercaya masyarakat. (Red/Kasi Penkum Kejati Jabar)

Estafet Tunas Kelapa 2026 : Menanamkan Semangat Pengabdian dan Kepemimpinan Generasi Muda

0

Ada sesuatu yang istimewa dari sebuah estafet. Bukan sekadar siapa yang berlari paling cepat, tetapi tentang bagaimana sebuah amanah diterima, dijaga, lalu diserahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan tetap memiliki makna.

Begitulah semangat Estafet Tunas Kelapa (ETK) dalam Gerakan Pramuka. Tunas kelapa bukan sekadar simbol yang dibawa dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi pesan moral tentang kehidupan: tumbuh, berakar kuat, bermanfaat, dan mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan.

Tunas Kelapa dan Filosofi Generasi Muda

Kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Filosofi inilah yang menjadikan tunas kelapa sebagai lambang Gerakan Pramuka.

Dalam konteks pendidikan generasi muda, filosofi tersebut sangat relevan. Anak-anak dan remaja tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka perlu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian, disiplin, serta semangat pengabdian.

ETK menjadi ruang pendidikan yang menarik karena nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi dialami secara langsung.

Di jalan, di tengah masyarakat, dan dalam kebersamaan sesama anggota Pramuka, peserta belajar bahwa kehidupan membutuhkan kerja sama, ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.

Estafet Amanah Antar Generasi

Estafet Tunas Kelapa juga dapat dimaknai sebagai estafet amanah antar-generasi. Generasi hari ini menerima warisan nilai dari para pendahulu. Nilai tersebut kemudian harus dirawat dan dikembangkan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, kegiatan ETK semestinya tidak berhenti pada seremoni. Jangan sampai tunas kelapa hanya berpindah tangan, sementara nilai yang dikandungnya tidak ikut berpindah ke dalam hati dan perilaku generasi muda.

Semangat Pramuka harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: menghormati orang tua dan guru, peduli kepada lingkungan, membantu masyarakat, menjaga persaudaraan, serta berani mengambil tanggung jawab.

Membangun Karakter Melalui Pengalaman

Pendidikan karakter akan lebih kuat ketika anak-anak memperoleh pengalaman nyata. Hal tersebut dibutuhkan gerak langkah nyata dengan memberikan manfaat kepada sesama.

Berjalan bersama, menjaga amanah, mengikuti aturan, menghadapi kelelahan, berkomunikasi dengan masyarakat, dan bekerja dalam kelompok merupakan pengalaman pendidikan yang sangat berharga.

Di sinilah ETK memiliki nilai strategis. Kegiatan tersebut dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak dibangun sendirian.
Ada kebersamaan, ada disiplin, ada pengorbanan, dan ada tanggung jawab.

Generasi muda juga belajar bahwa setiap orang memiliki peran. Ada yang membawa amanah, ada yang mendampingi, ada yang memberikan dukungan, dan ada masyarakat yang menyambut. Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.

Pramuka dan Masyarakat

Yang tidak kalah penting, ETK dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara Gerakan Pramuka dan masyarakat.

Pramuka bukan organisasi yang hidup di dalam lingkungan sekolah saja. Semangat kepramukaan harus mampu hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, pelayanan kemanusiaan, dan berbagai bentuk pengabdian.

Ketika ETK melintasi desa dan berbagai lingkungan masyarakat, sesungguhnya terdapat kesempatan untuk memperkenalkan kembali wajah Pramuka yang dekat dengan rakyat.

Pramuka harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial di lingkungannya.

Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Agar nilai-nilai ETK tidak berhenti setelah kegiatan selesai, diperlukan dukungan tiga lingkungan pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Sekolah memberikan penguatan pengetahuan dan karakter. Keluarga menjadi tempat pertama pembentukan akhlak dan kebiasaan. Sementara masyarakat menjadi ruang bagi anak untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, Estafet Tunas Kelapa dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang lebih luas.

Kita ingin anak-anak tidak hanya pandai berbicara tentang disiplin, tetapi mampu mempraktikkannya. Tidak hanya memahami gotong royong, tetapi mau melakukannya. Tidak hanya mengenal pengabdian, tetapi memiliki kepedulian untuk membantu sesama.

Menjaga Api Semangat

Pada akhirnya, Estafet Tunas Kelapa adalah tentang menjaga api semangat. Semangat yang terus menyala sepanjang masa.

Tunas yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi pohon yang besar di kemudian hari. Begitu pula generasi muda. Mereka adalah tunas bangsa yang sedang tumbuh. Maka dibalik makna tumbuh dibarengi dengan peran dan dukungan beberapa pihak untuk terus berkembang.

Tugas kita bukan sekadar menyaksikan mereka tumbuh, tetapi memberikan tanah yang baik, air yang cukup, dan lingkungan yang sehat agar mereka dapat berkembang menjadi generasi yang kuat. Hal ini sangat penting agar tumbuhnya generasi bukan sebatas fisik, akan tetapi mental dan rohaninya terus berkembang sebagai kekuatan dan modal untuk menuju generasi hebat.

Maka, mari kita jadikan Estafet Tunas Kelapa bukan sekadar perjalanan membawa simbol, tetapi perjalanan membawa nilai. Nilai persaudaraan, kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian, dan pengabdian menjadi spirit dalam berpramuka. Dengan demikian hadirnya Pramuka dalam pendidikan formal menjadi pilar untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sebab setiap tunas yang kita jaga hari ini adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tunas Kelapa terus berjalan, amanah terus diwariskan, dan semangat pengabdian harus terus dinyalakan. (*)

OMI 2026 Resmi Bergulir, Ribuan Siswa Kabupaten Bandung Berebut Tiket ke Tingkat Nasional

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Bandung resmi digelar. Ribuan siswa dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) mengikuti kompetisi yang menjadi ajang pencarian bibit-bibit unggul berkompetensi.

Pembukaan OMI tingkat Kabupaten Bandung berlangsung di MAN 1 Bandung, Senin (7/9/2026), dan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung, H. Ramlan Rustandi, S.Ag., M.Si.

OMI 2026 merupakan program nasional yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor 6843 Tahun 2026.

Menurut Ramlan Rustandi, OMI menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan peserta didik yang memiliki potensi dan kompetensi unggul.

“OMI ini merupakan program nasional yang dilaksanakan berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis Kemenag RI Nomor 6843 Tahun 2026,” ujar Ramlan.

Ia menjelaskan, cabang kompetisi OMI disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk tingkat MI terdapat dua cabang, MTs tiga cabang, sedangkan MA mempertandingkan enam cabang.

“Tujuannya untuk mencari bibit-bibit unggul yang memiliki kompetensi,” katanya.

Secara nasional, pelaksanaan OMI 2026 mendapat antusiasme tinggi. Tercatat sebanyak 230.123 peserta mendaftarkan diri dalam kompetisi tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 229.593 peserta atau sekitar 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi. Para peserta berasal dari 34 provinsi dengan keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan.

Menariknya, OMI 2026 tidak hanya diikuti oleh siswa madrasah. Sebanyak 13.271 siswa dari sekolah umum turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Keterlibatan siswa sekolah umum menunjukkan bahwa OMI 2026 tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi siswa madrasah, tetapi juga menjadi wadah yang mempertemukan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan masing-masing.

Ketua Komite Pelaksana OMI 2026 Kabupaten Bandung, H. Ceceng Ismail, S.Ag., mengatakan pelaksanaan OMI tingkat Kabupaten Bandung tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan disebar di sejumlah titik lokasi (tilok) sesuai jenjang pendidikan.

Untuk tingkat MA, pelaksanaan kompetisi dipusatkan di MAN 1 Bandung.

Sementara itu, untuk tingkat MTs, kompetisi digelar di tiga titik lokasi, yakni MTsN 1, MTsN 2, dan MTsN 3. Sedangkan untuk tingkat MI, pelaksanaan OMI tersebar di empat titik lokasi, yaitu di MI Al Musthofa Majalaya, MI Muhammadiyah Rancaekek, MI Al Hikmah Bojongsoang dan MI Yuppi Soreang.

“Dalam penyelenggaraan OMI tingkat Kabupaten Bandung, pelaksanaannya dilakukan di beberapa titik lokasi. Untuk tingkat MA di MAN 1 Bandung, tingkat MTs di tiga tilok, yaitu MTsN 1, MTsN 2 dan MTsN 3, sedangkan tingkat MI di empat tilok,” ujar Ceceng.

Menurut Ceceng, pembagian titik lokasi tersebut merupakan bagian dari pengaturan pelaksanaan kompetisi berdasarkan jenjang pendidikan peserta.

Ceceng menambahkan, rangkaian OMI 2026 dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat nasional.

Tahap tingkat kabupaten/kota dijadwalkan berlangsung pada 7–8 September 2026. Peserta terbaik kemudian akan melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi yang dijadwalkan pada 5–6 Oktober 2026.

Selanjutnya, para peserta terbaik dari tingkat provinsi akan melaju ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 10–11 November 2026. Sedangkan pengumuman pemenang sekaligus penutupan OMI 2026 tingkat nasional dijadwalkan pada 12 November 2026.

“Rangkaian OMI 2026 akan berlangsung secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional,” kata Ceceng.

Dengan sistem kompetisi berjenjang tersebut, OMI 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang meraih juara, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, membangun mental kompetitif yang sehat, serta menjaring siswa-siswi berprestasi yang nantinya dapat menjadi representasi terbaik daerah di tingkat yang lebih tinggi. (Red)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts